Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, muncul pertanyaan mendasar di kalangan akademisi: “Apakah etis menggunakan AI dalam penelitian?”

Jawabannya adalah iya, asalkan dilakukan dengan bijak dan transparan. Saat ini, raksasa penerbit dunia seperti Elsevier, The Lancet, hingga organisasi etika publikasi seperti COPE (Committee on Publication Ethics) telah merumuskan kebijakan yang jelas mengenai hal tersebut.

Paradigma Baru: AI sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti

Logikanya mirip dengan evolusi pencarian referensi: jika dulu kita harus ke perpustakaan untuk mendapatkan sumber referensi, lalu dimudahkan oleh Google Scholar, maka kini AI hadir untuk mempercepat efisiensi kerja kita. Editor jurnal zaman sekarang tidak keberatan untuk menerima naskah yang melibatkan penggunaan AI dalam proses penelitiannya.

Namun, tetap ada batasan tegas yang harus dipatuhi agar integritas penelitian tetap terjaga:

1. Transparansi adalah Kunci
Kunci utama penggunaan AI dalam naskah ilmiah adalah kejujuran. Penulis wajib menyampaikan secara langsung di dalam naskah pada tahapan mana saja AI digunakan.
Deklarasi AI: Elsevier, misalnya, sebelum menyelesaikan proses submission, tersedia kolom deklarasi khusus untuk merinci penggunaan AI.
Akuntabilitas: Penulis bertanggung jawab secara penuh atas kebenaran data dan isi naskah, karena AI tidak bisa dianggap sebagai penulis (author).

2. Bijaklah, Bukan “Kebablasan”
AI sangat efektif untuk membantu menstrukturkan ide atau mempercepat pengolahan data awal. Akan tetapi, penggunaan yang berlebihan hingga menghilangkan peran pemikiran kritis peneliti sangat tidak direkomendasikan. Bahkan, publisher besar memberikan lampu hijau untuk penggunaan AI, asalkan dalam batasan yang jelas dan bertanggung jawab.

3. Hindari “AI Humanizer”
Satu hal yang sangat tidak disarankan adalah penggunaan alat AI Humanizer. Mengapa? Secara logika dan etika akademik, naskah ilmiah harus mencerminkan pemikiran orisinal penulisnya. Daripada menggunakan alat otomatis untuk memanipulasi teks agar lolos deteksi AI, jauh lebih baik jika Anda melakukan paraphrase secara mandiri. Hal ini dapat membantu Anda untuk memastikan bahwa logika berpikir dan konteks penelitian tetap akurat dan autentik.

Kesimpulan

Kecerdasan Buatan adalah kawan bagi peneliti jika digunakan sebagai alat pendukung efisiensi. Dengan tetap mengedepankan asas transparansi dan menjaga batasan etika yang telah ditetapkan oleh para penerbit global, kita dapat memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan integritas dan nilai-nilai luhur penelitian ilmiah.