Sebuah studi yang baru saja dipublikasikan mengungkap potensi besar bayam liar (Amaranthus dubius) sebagai sumber minyak nabati bernilai tinggi. Sumber daya ini belum banyak dimanfaatkan meskipun tanaman tersebut tumbuh melimpah di Indonesia. Evitasari dkk. (2026) mengembangkan metode ekstraksi ramah lingkungan untuk mengolah minyak biji tanaman ini menjadi bahan baku potensial bagi industri pangan, kosmetik, dan farmasi.
Abstract
This research will explore the potential for utilizing wild amaranth (Amaranthus dubius) seeds, which are abundant and have not been utilized in Indonesia. This research will focus on optimizing the amaranth seed oil extraction process using the response surface method and the characteristics of the oil produced from amaranth seeds. The solvent used in this research is a biobased green solvent, terpenes. This research aims to explore the potential of utilizing wild amaranth seeds by optimizing the oil extraction process using a biobased green solvent, terpenes, through the response surface methodology (RSM). Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) results indicate that the terpenes solvent contains various terpenoids such as α-pinene, β-pinene, and camphene. By applying ultrasound-assisted extraction (UAE) and optimizing the critical process parameters (liquid-to-solid ratio, extraction temperature, and extraction time) through a Box-Behnken RSM design, the maximum oil yield was achieved under environmentally friendly conditions. The optimum condition was reached at a solvent-to-solid ratio of 5.13 ml/0.1 g, a temperature of 49.39 °C, and an extraction time of 47 minutes. With these optimal parameters, the predicted oil yield was 2.04%. The optimized extraction not only delivered a high-quality oil-rich extract but also minimized solvent residue, energy consumption, and hazardous emissions.
Komposisi Bernilai Tinggi
Minyak biji bayam liar memiliki profil asam lemak esensial yang kaya, meliputi:
- Asam linoleat: 36,7%
- Asam palmitat: 19,1%
- Asam oleat: 18,7%
- Skualena: 3,6%–6,1%
Kandungan skualena dalam biji bayam liar jauh lebih tinggi dibandingkan dengan minyak nabati konvensional, seperti minyak zaitun (0,4%), minyak bekatul padi (0,3%), dan minyak kelapa (0,002%). Hal ini menjadikan bayam liar sebagai sumber alami yang menjanjikan untuk manfaat antioksidan dan perlindungan kulit dalam aplikasi kosmetik, nutrasetikal, dan farmasi.
Metode Ekstraksi yang Lebih Aman
Untuk menggantikan pelarut konvensional seperti n-heksana yang menimbulkan risiko lingkungan, tim peneliti menggunakan metode Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) dengan “pelarut hijau” berbasis terpen yang berasal dari pohon pinus. Analisis FTIR menunjukkan bahwa pelarut ini mengandung senyawa aktif seperti α-pinena, β-pinena, dan kamfena, pelarut ini memiliki daya larut yang sebanding dengan n-heksana namun memiliki titik nyala yang lebih tinggi, sehingga lebih aman untuk digunakan.
Penelitian ini mengonfirmasi bahwa pendekatan ekstraksi berbasis pelarut hijau dapat menghasilkan minyak berkualitas tinggi sekaligus meminimalkan residu pelarut, konsumsi energi, dan emisi berbahaya, sejalan dengan prinsip-prinsip teknik kimia berkelanjutan. Temuan ini membuka peluang untuk memanfaatkan bayam liar sebagai bahan baku alternatif yang lebih ramah lingkungan bagi industri pangan dan kosmetik.
Referensi
R. T. Evitasari dkk., “Amaranthus dubius seeds oil extraction using green solvent approach with terpenes,” International Journal of Advances in Applied Sciences, vol. 15, no. 3, hlm. 964, Sep. 2026, doi: 10.11591/ijaas.v15.i3.pp964-974. Available: https://ijaas.iaescore.com/index.php/IJAAS/article/view/22279
